Home » Opini » Demokrasi Yang Mengandalkan Citra
Demokrasi Yang Mengandalkan Citra. (Foto: ilustrasi)
Demokrasi Yang Mengandalkan Citra. (Foto: ilustrasi)

Demokrasi Yang Mengandalkan Citra

Oleh: Satori

Alumni Fisip Universitas Jember

 

Demokrasi Yang Mengandalkan Citra

 

Menjelang pemilu 2019 media tak henti-hentinya menayangkan berita-berita tentang dinamika politik tanah air.

Percaturan politik tanah air menjelang pemilihan presiden dan wakil presiden makin menggeliat, kebebasan media sebagai salah satu variable yang mendorong masyarakat berbicara seputar politik.

Walaupun agak terlihat sulit memprediksi arah politiknya yang katanya, berjangkar pada prinsip demokrasi.

Sepak terjang para politisi kita masih belum memperlihatkan keseriusannya dalam menentukan keberpihakannya pada rakyat secara total.

Terlihat jelas betapa politisi dan parpol tidak menawarkan sebuat gagasan program yang jelas dalam memperjuangkan kepentingan rakyat dan memberikan arah yang jelas.

Baca  DPT Bikin Bete
Demokrasi Yang Mengandalkan Citra. (ilustrasi manusia palsu)
Demokrasi Yang Mengandalkan Citra. (ilustrasi manusia palsu)

Walau masing-masing mengklaim demi kepentingan rakyat, namun tingkah laku para politisi kita tak ubahnya seperti sekumpulan manusia palsu. Dan inilah yang penulis sebut palsu kolektif.

Partai politik sibuk mencari cara hanya untuk memenangkan calon presiden yang diusung dan menggaet massa sebanyak-banyaknya.


Landasan partai yang awalnya berbeda dengan sekejab meleleh ketika dihadapkan dengan kepentingan-kepentingan tertentu. Landasan ideologis pun hanya sebatas hiasan biografi partai.

Akhirnya akumulasi suara rakyat adalah tujuan utama partai politik.

Sifat massa yang mengambang menambah kesibukan partai politik untuk merumuskan strategi apa pun guna meraup suara maksimal hingga sekat ideologi menjadi tidak jelas dan tunduk kepada hasrat akan kemenangan dalam pemilu.

Baca  PKB: Ijtima Ulama II Tak Bisa Dijadikan Sebagai Sikap Umat

Lalu model demokrasi apakah yang bisa kita perkirakan akan tumbuh baik di negeri ini kalau model perjuangannya hanya berorientasi meraup suara?

Hiruk-pikuk perpolitikan tanah air saat ini menjadi penanda sebuah geliat pertarungan merebut kekuasaan. Semua bicara tentang bagaimana memenangkan pemilu kali ini, tapi minim gagasan.

Rakyat disiapkan menjadi objek yang hanya dilibatkan secara seremonial lima tahunan. Rakyat tidak tahu lagi tujuan dari pemilu yang sebenarnya untuk siapa dan kini rakyat tidak mau tahu karna semua mengabur dan menguap alias palsu.

Demokrasi Yang Mengandalkan Citra
Demokrasi Yang Mengandalkan Citra

Kalau pun para politisi berbicara soal rakyat, itu hanya sebuah tuntutan kampanye dalam sistem demokrasi yang mengandalkan penanaman citra.

Baca  Mengherankan, Dana Awal Kampanye Perindo Ternyata Cuma Rp 1 Juta

Para politisi beserta partai politiknya berusaha keras membangun citra politik dengan berbagai cara dan bentuknya. Maka terjadilah politik pencitraan.

Politisi maupun partai yang memiliki banyak logistik akan sangat mudah membangun dan membuat pencitraan politik, tentu saja politik pencitraan lebih disukai oleh sebagian besar masyarakat kita.

-Alumni FISIP Unej-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

OpiniLeft Menu Icon