Home » Pilihan » Indonesia Pasti Berdarah-Darah Sekiranya Polisi Tidak Bergerak Cepat Membongkar Hoaks Ratna Sarumpaet
Indonesia Pasti Berdarah-Darah Sekiranya Polisi Tidak Bergerak Cepat Membongkar Hoaks Ratna Sarumpaet
Indonesia Pasti Berdarah-Darah Sekiranya Polisi Tidak Bergerak Cepat Membongkar Hoaks Ratna Sarumpaet

Indonesia Pasti Berdarah-Darah Sekiranya Polisi Tidak Bergerak Cepat Membongkar Hoaks Ratna Sarumpaet

QARAO.com, Jakarta – Seandainya Kepolisian RI tak bergerak cepat membongkar kebohongan Ratna Sarumpaet soal penganiayaan yang dialaminya, bisa jadi Indonesia sudah ‘berdarah-darah’. 

Sebab masyarakat akan terbelah pendapatnya, dan berujung pada konflik diantara masyarakat sendiri.

Hal itu terungkap dalam diskusi bertema ‘Negara Darurat Hoaks’ yang digelar Masyarakat Anti Fitnah Indonesia di Gedung Kominfo, Jakarta, Selasa (16/10/2018) sore.

Indonesia Pasti Berdarah-Darah Sekiranya Polisi Tidak Bergerak Cepat Membongkar Hoaks Ratna Sarumpaet (Foto: tempo)
Indonesia Pasti Berdarah-Darah Sekiranya Polisi Tidak Bergerak Cepat Membongkar Hoaks Ratna Sarumpaet (Foto: tempo)

Salah satu pembicara, Saor Siagian, mengatakan dirinya merasa merinding saat lagu Indonesia Pusaka diputar di awal diskusi itu.

Dirinya membayangkan betapa mahalnya persatuan Indonesia yang hampir saja rusak hanya karena hoaks yang disebarkan oleh Ratna Sarumpaet dll.

Baca  Ketua Umum PPP Romahurmuziy Terjaring Operasi Tangkap Tangan KPK

“Indonesia pasti berdarah-darah sekiranya Polisi tidak bergerak cepat membongkar hoaks Ratna itu,” kata Saor, yang dikenal juga sebagai anggota Forum Advokat Pengawal Konstitusi itu.

Indonesia Pasti Berdarah-Darah Sekiranya Polisi Tidak Bergerak Cepat Membongkar Hoaks Ratna Sarumpaet
Indonesia Pasti Berdarah-Darah Sekiranya Polisi Tidak Bergerak Cepat Membongkar Hoaks Ratna Sarumpaet

Sekjen DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, yang menjadi peserta di diskusi itu, mengaku sependapat dengan Saor.

Dia mengingat, pada hari pertama hoaks Ratna diledakkan, Prabowo didampingi tokoh seperti Amien Rais, mengajukan gugatan keras. Prabowo berpidato, berusaha menusuk jantung pemerintahan Jokowi yang dituduh melanggar HAM.

“Pemerintahan Pak Jokowi dituduh melanggar HAM, dituduh melakukan penganiayaan pada seorang ibu-ibu usia 70-an tahun. Sangat dashyat. Pidato yang bisa membakar negeri dengan pertumpahan darah,” kata Hasto.


Hasto melanjutkan, dengan gerak cepat Kepolisian, hoaks Ratna terbongkar. Dan Prabowo mengaku bahwa dia memang grasa-grusu.

Baca  VIDEO: Puteri Indonesia 2018 Sonia Fergina Citra Syuting di Lombok Untuk Pagelaran Puteri Indonesia 2019

Masalahnya, kata Hasto, kini publik mempertanyakan banyak hal. Khususnya soal apakah kebohongan itu sekedar akal-akalan Ratna sendiri, atau merupakan kebohongan terencana, sistematis, dan terstruktur.

“Apakah Pak Prabowo tersebut meminta maaf karena ketahuan bahwa penganiayaan itu sebagai skenario penipuan terencana, atau karena tulus telah dibohongi?” ujar Hasto.

“Siapa di republik ini yang berani bertindak bohong kepada sosok seperti Pak Prabowo? Lalu bagaimana dengan teori firehouse of the falsehood ala Rusia dan telah dipraktekkan di USA?” lanjutnya.

Pertanyaan publik soal kemungkinan kebohongan Ratna sudah direncanakan itu wajar.

Sebab Hanum Rais, putri Amien, sempat menyatakan bahwa dirinya adalah seorang dokter yang telah meraba dan memeriksa luka Ratna Sarumpaet. Dia mengaku bisa membedakan gurat luka paskaoperasi dan mana luka paskapenganiayaan. (tribunnews)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

PilihanLeft Menu Icon