Kerapan Sapi Brujul Kembali Digelar di Kota Probolinggo. (Foto: Risty)
Kerapan Sapi Brujul Kembali Digelar di Kota Probolinggo. (Foto: Risty)

Kerapan Sapi Brujul Kembali Digelar di Kota Probolinggo

QARAO.com, Probolinggo – Sebanyak 50 peserta, ikut dalam kerapan “sapi brujul” atau sapi yang biasanya digunakan untuk membajak sawah oleh para petani di Kota Probolinggo.

Dalam penampilannya, para peserta dituntut mengerahkan tenaga sapinya untuk berlari kencang, dengan melahap lintasan tanah berlumpur sepanjang 175 meter dan lebar 35 meter.

Karapan sapi brujul, digelar di areal persawahan Jalan KH Syafi’i, Kelurahan Jrebeng Kidul, Kecamatan Wonoasih, Kota Probolinggo.

Salah satu peserta, Rohim mengungkapkan, sebelum beradu di lintasan, tim nya biasanya membuat persiapan khusus agar sapi-sapinya bisa bertarung, dan berlari kencang di lintasan.

Persiapan tersebut mulai dari latihan yang cukup, hingga pemberian asupan ramuan sehat, bagi sapi-sapi yang akan dipertandingkan.

Baca  Motor VS Motor, Seorang Pengendara di Probolinggo Tewas 2 Luka - Luka

“Agar menang ya dilatih dulu, dan tak lupa dikasih jamu dan telur, biar sapinya tidak lekas capek,”terangnya.

Kerapan Sapi Brujul Kembali Digelar di Kota Probolinggo. (Foto: Risty)
Kerapan Sapi Brujul Kembali Digelar di Kota Probolinggo. (Foto: Risty)

Sementara Wali Kota Probolinggo, Hadi Zainal Abidin, yang membuka langsung kerapan sapi brujul, berharap masyarakat Kota Probolinggo ikut melestarikan warisan budaya asli kota Bayuangga.

Apalagi menurut Wali Kota Hadi, di hari jadi Kota Probolinggo yang ke 660, kerapan sapi brujul telah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda milik Kota Probolinggo, oleh Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan RI.

“Hak paten sudah milik Kota Probolinggo. Mari kita jaga bersama, jangan sampai kegiatan yang sudah baik, disalahgunakan menjadi hal yang tidak baik. Mari jaga tradisi ini dengan baik,” ujar Wali Kota Hadi,saat membuka karapan sapi brujul, Sabtu (07/9/19).

Baca  Aksi Sertu Saifullah Dalam Memeriahkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke 74

Sekedar informasi, karapan sapi brujul mulanya merupakan kebiasaan para petani usai membajak sawahnya untuk menghilangkan kejenuhan dan kepenatan. Tanpa adanya hadiah, petani kemudian menggelar karapan, hingga akhirnya mengundang daya tarik masyarakat melihatnya.

Melalui karapan sapi brujul sendiri, kini berubah menjadi wadah petani, komunitas dan pemerintah guna menyambung tali silaturahim. Sekaligus menjalin kebersamaan dan bekerjasama, dalam membangun Kota Probolinggo lebih baik.

[risty]

— via qarao-post

Selanjutnya

Serangan Ulat Jengkal, Babinsa Desa Randuputih Peduli Situasi Terhadap Wilayahnya Langsung Ikut Memantau Bersama Dinas Pertanian. (Foto: Risty)

Serangan Ulat Jengkal, Babinsa Desa Randuputih Peduli Situasi Terhadap Wilayahnya Langsung Ikut Memantau Bersama Dinas Pertanian

QARAO.com, Probolinggo – Seiring dengan belum datangnya musim hujan hingga pergantian tahun 2020 ini, membuat …

31806711 A337 446A AAE3 A9D28D423335

VIDEO: Memberikan Rasa Aman Malam Tahun Baru, Polres Manggarai NTT Gelar Patroli Skala Besar

Baca  Aksi Serda Nalindro Anggota Koramil 0820/ 21 Maron Tak Terhalang hari Libur

Minggu, 23 Februari 2020