Home » Peristiwa » Lyudmila Pavlichenko, Sniper Legendaris Menewaskan 309 Musuh
independent.co.uk

Lyudmila Pavlichenko, Sniper Legendaris Menewaskan 309 Musuh

QARAO.com, Rusia – Sniper atau penembak jitu sangat berpengaruh pada perang dunia kedua. Meskipun perang tersebut telah terjadi lebih dari setengah abad yang lalu, banyak hikmah yang dapat kita ambil. Bukan pertikaian dan horor perangnya yang ditiru, namun semangat untuk menjalani kehidupan dan perjuangannya yang perlu kita perhatikan.

Sebelum perang, Pavlichenko adalah seorang mahasiswi dan seorang penembak amatir. Lyudmila dikenal sebagai sosok siswi yang cemerlang di sekolah. Namun, dia memiliki bakat lain yaitu menembak dan Lyudmila memiliki kemampuan menembak jitu yang amat baik.

Pada 1937, Lyudmila menyelesaikan gelar sarjana sejarah dan mengejar gelar doktor pada 1941 bersamaan dengan saat Jerman menginvasi Uni Soviet. Saat Jerman memasuki kota Odessa, Lyudmila termasuk para relawan pertama yang mendaftar masuk ke batalion infantri. Saat berusia 24 tahun, ikut dalam sekolah penembak jitu dan berhasil bergabung dengan Divisi Rifle Chapayev ke-25.

Baca  Koramil 0820/14 Besuk Bersihkan Aliran Sungai Antisipasi Banjir

Pavlichenko dapat dikatakan sebagai penembak jitu wanita paling sukses dalam sejarah perang karena ia berhasil menembak mati 309 tentara Nazi termasuk 29 penembak jitu dari kubu lawan. Medan tempur yang juga terkenal sadis yaitu wilayah Krimea dan Odessa.

Lyudmila Pavlichenko
Kisah Lyudmila diangkat ke dalam film Battle for Sevastopol

Pavlichenko selamat dari perang setelah mengalami luka akibat sebuah tembakan. Ia dianggap sebagai sniper paling mematikan dalam sejarah. Saat tur di Amerika pada 1942, ia pun sempat mengaku telah membunuh ratusan orang di hadapan banyak orang. “Saya berusia 25 tahun, dan saya telah membunuh 309 orang fasis sekarang,” ujarnya.

Pada 1957, Eleanor Roosevelt, yang merupakan istri dari Franklin D. Roosevelt (Presiden Amerika Serikat ke-32) mendapatkan izin untuk mengunjungi Uni Soviet. Di sana, Eleanor disambut hangat tetapi tak diizinkan bertemu siapapun tanpa pendamping dari pemerintah. Di Moskwa, Eleanor terus bertanya soal Lyudmila hingga akhirnya dia dibawa untuk mengunjungi sang sahabat di apartemennya.

Baca  Dandim 0615/Kuningan : TNI Harus Jago Tembak, Jago Perang dan Profesional

Lyudmila Pavlichenko kemudian diberikan penghormatan sebagai pahlawan Uni Soviet (sekarang Rusia). Ia bahkan menjadi pelatih dan melahirkan generasi sniper andal selanjutnya. Selain itu, Lyudmila Pavlichenko melanjutkan studinya yang sebelumnya terbengkalai. Selain dikenal sebagai Sniper, Lyudmila Pavlichenko pun dikenal sebagai sejarawan.

Di akhir perang, dari 2.000 sniper wanita Uni Soviet, hanya 500 orang yang berhasil lolos dari maut dan Lyudmila adalah salah satu dari mereka. Saat perang berakhir, Lyudmila menyelesaikan studi doktoralnya dan menjadi sejarawan. Dia kemudian bekerja sebagai peneliti untuk AL Uni Soviet, kembali menikah, dan menjalani kehidupan tenang di sebuah apartemen.

Baca  Film KADO Memenangkan Film Pendek Terbaik di Venesia.

Lyudmila Pavlichenko meninggal dunia pada 10 Oktober 1974 dalam usia 58 tahun dan dimakamkan di Moskwa. Dua tahun kemudian, sebuah perangko dengan wajah Lyudmila diterbitkan untuk mengenang jasa sang sniper wanita legendaris itu.


Pada 2015, kisah Lyudmila pun diangkat ke sebuah film layar lebar “Battle for Sevastopol” yang menceritakan tentang perjuangannya dalam menghadapi gempuran Nazi.

– iQra –

PeristiwaLeft Menu Icon