Home » Opini » Pribadi yang “Merdeka”
Pribadi yang "Merdeka". (Foto: istimewa)
Pribadi yang "Merdeka". (Foto: istimewa)

Pribadi yang “Merdeka”

Oleh: Syahrullah Iskandar

Ketua DKM Bayt Ar-Rahman Sawangan Village Depok

 

Pribadi yang “Merdeka”

 

“We are condemned to be free”.

Demikian ungkapan Jean-Paul Sartre (1905-1980), filsuf dan sastrawan Prancis beraliran eksistensialisme yang getol menekankan kebebasan.

Poin penting yang hendak ditekankannya adalah bahwa kebebasan merupakan suatu komponen kehidupan setiap manusia. Dengan kata lain, kebebasan telah menjadi nasib kita yang tidak terhindarkan. Kebebasan demikian itulah yang menjadi titik awal dari keutamaan manusia.

Jamak dimaklumi bahwa keutamaan manusia terletak pada potensi emosional, intelektual, dan spiritual yang menyertainya. Dengan potensi tersebut, manusia mampu berinteraksi sosial kepada sesama ataupun lingkungannya secara konstruktif, sanggup menundukkan alam dengan kepiawaian dan kecerdasan otaknya, dapat memenuhi dahaga batinnya dengan mengedepankan kesadaran kemakhlukannya.


Keutamaan demikian akan melahirkan aneka inovasi dan kreasi sebagai karya yang turut mewarnai peradaban manusia.

Potensi yang dimiliki setiap manusia menuntutnya untuk berpikir, berencana, dan bertindak. Implikasinya pun dapat berbuah konstruktif ataupun destruktif bagi pihak lain.

Ketika didasarkan pada kesadaran individual bahwa manusia merupakan makhluk berdimensi ganda (pribadi dan sosial) sehingga kepentingan pribadinya merupakan cerminan dari kepentingan selain dirinya, maka tindak-tanduknya akan berbuah konsktruktif.

Sebaliknya, jika kepentingan selain dirinya diasumsikan sebagai sisi terpisah dari kepentingan pribadi, niscaya buruk pula implikasinya bagi kemanusiaan. Dari perspektif ini, kesadaran individual dan kesadaran sosial merupakan dua sisi mata uang yang integral dalam kehidupan manusia.

Kebebasan yang Memerdekakan
Pada galibnya, kemerdekaan manusia diidentikkan dengan kebebasannya. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kemerdekaan dimaknai sebagai “lepas dari bentuk keterikatan, lepas dari tuntutan, dan dapat berdiri sendiri”. Sepintas, pemaknaan kemerdekaan demikian memang menyejajarkannya dengan “kebebasan”.

Baca Juga  Otokritik Refleksi Hari Pers Nasional Tahun 2019 (Bagian-2, Habis)

Dalam hal ini, manusia memiliki ruang untuk bertindak atas kewenangannya seluas-luasnya, tanpa harus memedulikan selain atau di luar dirinya.

Konotasi semacam ini barulah pada tataran individual yang belum paripurna, karena kebebasan dalam tataran sosial menjadi kelanjutannya.

Kebebasan individual, kata Soekarno, merupakan sumber malapetaka di dunia ini. Pesan berharga dari proklamator tercinta itu seolah telah menemukan momentum performatifnya di negeri ini.

Contoh sederhana dari ini adalah eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam yang tidak lagi berbasis kebutuhan, melainkan berlatar egoisme material yang hanya menguntungkan segelintir orang.

Kesempatan menjabat posisi strategis dalam pemerintahan sering kali dioptimalkan untuk memperkaya diri dan kelompoknya, sehingga kewibawaan negara raib oleh perilaku korup.

Kita juga dibuat tercengang oleh aksi brutal sekelompok orang atas nama agama yang dengan leluasa bertindak anarkis terhadap sesama, tanpa mengindahkan aturan hukum yang dianut bersama selaku warga negara.

Penayangan sejumlah program televisi yang hanya mementingkan rating tinggi tanpa mengindahkan nilai edukatifnya bagi masyarakat, terutama bagi anak di bawah umur. Ini hanyalah sedikit dari dimensi faktual kekinian di negeri ini yang hanya mengedepankan kebebasan individual yang belum menyentuh ranah kesadaran tentang kebebasan sosial.

Kita dapat menarik benang merah bahwa kesadaran berbasis kebebasan sosial merupakan prasyarat mewujudnya manusia merdeka. Persoalan selanjutnya adalah bagaimana menumbuhkan kesadaran akan kebebasan sosial tersebut?

Salah satu jawaban yang dapat dikemukakan adalah mengedepankan tanggung jawab sebagai konsekuensi dari kebebasan itu sendiri.

Baca Juga  HIPMI Mendorong Terciptanya Entrepreneur Muda Yang Hebat

Sebab, tanggung jawab meniscayakan perhatian akan hak dan kepentingan pihak lain, sehingga keputusan ataupun tindakan yang ditempuh akan berdampak positif bagi semuanya.

Dimensi tanggung jawab ini sangat memainkan peran vital dalam upaya optimalisasi kebebasan berbasis sosial. Saat ini, tanggung jawab bukannya tidak terintegrasi dalam pengambilan keputusan dan tindakan sosial seperti contoh yang dikemukakan di atas.

Meminjam peristilahan K. Bertens dalam Etika-nya, bahwa dalam konteks persoalan tersebut, pemangku kepentingan acap kali lebih mengedepankan sifat retrospektif dari tanggung jawab itu ketimbang prospektif-nya.

Retrospektif yang dimaksud adalah tanggung jawab atas perbuatan yang telah terlaksana, sedangkan prospektif merupakan tanggung jawab atas perbuatan yang akan datang. Tanggung jawab yang bersifat prospektif ini lebih berdaya futuristik, sehingga kualitas perilaku sosial kita juga lebih optimal.

Segala sesuatu yang bersifat preventif sudah disiapkan infrastrukturnya untuk mendukung optimalisasi sebuah tindakan. Kita dapat membayangkan betapa eloknya jika pengusaha, pejabat, aparat, dan selainnya mengedepankan tanggung jawab prospektif ini dalam mengambil keputusan dan tindakannya.

Dapat disimpulkan bahwa manusia merdeka bukanlah penyandang pelaku kebebasan tanpa syarat. Kebebasan yang dimilikinya bersyarat oleh batas-batas tertentu. Paling tidak, ada tiga faktor yang menjadi batasan tersebut.

Pertama, faktor nurani. Seseorang harus membenahi dirinya terlebih dahulu sebelum beranjak ke orang lain. Upaya pembenahan ini akan selalu muncul dari dalam diri dan senantiasa menjadi motivasi tersendiri dalam kesehariannya. Tidak mungkin orang lain merasa terganggu oleh tindakannya jika selalu bercermin pada nuraninya.

Dengan nurani, orang lain akan diposisikan sejajar dengan dirinya, sehingga perilaku sosialnya dijadikan sebagai andaian perilaku orang lain terhadapnya. Manusia merdeka dipastikan tidak akan menyia-nyiakan nuraninya.

Kedua, faktor orang lain. Pribadi yang merdeka senantiasa terikat oleh kebebasan itu sendiri, khususnya kebebasan yang dimiliki orang lain. Setiap orang memiliki kebebasan, dan kebebasan tersebut akan membatasi kebebasan orang lain, demikian pula sebaliknya. Prinsip ini sangat efektif ditanamkan dalam interaksi sosial keseharian.

Baca Juga  DPT Bikin Bete

Kerukunan bertetangga, bermasyarakat, dan beragama akan terajut dengan kokohnya jika memerhatikan prinsip mendasar ini. Egoisme ideologis dengan menyalahkan anutan ideologis orang atau kelompok lain dengan mengacu parameter ideologis subjektif dipastikan tidak akan mengemuka. Aksi terorisme dengan motif apa pun tidak mendapat celah untuk merebak jika kesadaran akan kebebasan orang lain dijadikan pedoman.

Ketiga, faktor lingkungan. Lingkungan yang dimaksud adalah alam sekitar kita. Kerusakan alam, baik polusi udara, penambangan dan penebangan liar di darat, ataupun pencemaran sumber air menjadi persoalan kompleks yang dihadapi saat ini.

Titik tolaknya adalah pemosisian lingkungan hanya berdasarkan perspektif masa kini, tanpa mengindahkan peruntukannya untuk generasi mendatang. Dalam hal ini, tanggung jawab prospektif terkesan absen dari eksploitasi sumber daya alam ini.

Manusia merdeka akan menempatkan dirinya sebagai perintis yang baik untuk keberlangsungan kehidupan alam di masa-masa berikutnya.

Manusia merdeka tidak akan berperilaku eksploitatif, korup, anarkis, ataupun abai terhadap moralitas dalam setiap perilakunya. Semoga momentum hari kemerdekaan negeri tercinta ini mengasah kepekaan kita akan hakikat manusia yang merdeka.

Dirgahayu tanah airku yang ke-73!!!

Sawangan, 11 Agustus 2018

OpiniLeft Menu Icon