Home » Peristiwa » Riwayat Gempa Bumi dan Tsunami yang Mengguncang Palu dan Donggala Dari Masa ke Masa
Riwayat Gempa Bumi dan Tsunami yang Mengguncang Palu dan Donggala Dari Masa ke Masa
Riwayat Gempa Bumi dan Tsunami yang Mengguncang Palu dan Donggala Dari Masa ke Masa

Riwayat Gempa Bumi dan Tsunami yang Mengguncang Palu dan Donggala Dari Masa ke Masa

QARAO.com, Jakarta – Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, Sulawesi Tengah sering mengalami musibah gempa bumi dan tsunami. Terlebih, ada dua wilayah yang sering mengalami musibah tersebut seperti Palu dan Donggala.

“Memang wilayah Sulawesi Tengah, khusus wilayah Palu dan Donggala rawan terjadi gempa dan tsunami,” kata Sutopo di kantor BNPB, Jakarta Timur, Sabtu (29/9/2018).

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho memberikan keterangan pers di kantor BNPB Jakarta, Sabtu (29/9/2018). BNPB menyatakan jumlah korban tewas akibat gempa bumi dan tsunami di kota Palu sebanyak 48 orang. (Liputan6.com)
Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho memberikan keterangan pers di kantor BNPB Jakarta, Sabtu (29/9/2018). BNPB menyatakan jumlah korban tewas akibat gempa bumi dan tsunami di kota Palu sebanyak 48 orang. (Liputan6.com)

Dia menyebutkan, gempa dengan magnitudo 6,5 yang berasal dari aktivitas tektonik Watusampo di teluk Palu pernah mengguncang pada 1 Desember 1927. Saat itu 14 orang meninggal dunia dan 50 orang luka-luka.

Lalu, pada 30 Januari 1930, terjadi gempa di pantai barat Kabupaten Donggala yang menyebabkan tsunami setinggi dua meter dan berlangsung selama dua menit.

Kemudian, gempa bermagnitudo 6 yang berpusat di Teluk Tambu, Kecamatan Balaesang, Donggala, terjadi pada 14 Agustus 1938. Gempa tersebut menyebabkan tsunami 8-10 meter di pantai barat Kabupaten Donggala.

“Sebanyak 200 korban meninggal dunia dan 790 rumah rusak serta seluruh desa di pesisir pantai barat Donggala hampir tenggelam,” sebutnya.

Baca  Membedah Seluk Beluk Seni Jaranan

Gempa juga terjadi pada 1994 yang dikenal dengan gempa Sausu yang terjadi di Kabupaten Donggala dan mengguncang Sulawesi Tengah. Pada 1 Januari 1996, gempa dengan magnitudo 7,4 yang berpusat di selat Makassar mengakibatkan tsunami yang menyapu pantai barat Kabupaten Donggala dan Tolitoli.

Pada 1996 terjadi gempa di Tonggolobibi di Desa Bankir, Tonggolobibi dan Donggala yang menyebabkan tsunami setinggi 3,4 meter datang dan membawa air laut sejauh 300 meter ke daratan. Saat itu sebanyak 9 orang tewas dan bangunan rusak parah.

“Pada 11 Oktober 1998 Kabupaten Donggala diguncang gempa berkekuatan magnitudo 5,5. Ratusan bangunan rusak parah akibat gempa,” ujar Sutopo.


Warga memeriksa kerusakan akibat gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah , Sabtu (29/9/2018). Gelombang tsunami setinggi 1,5 meter yang menerjang Palu terjadi setelah gempa bumi mengguncang Palu dan Donggala. (AFP /Ola Gondronk)
Warga memeriksa kerusakan akibat gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah , Sabtu (29/9/2018). Gelombang tsunami setinggi 1,5 meter yang menerjang Palu terjadi setelah gempa bumi mengguncang Palu dan Donggala. (AFP /Ola Gondronk)

Setelah itu, Sulawesi Tengah masih mengalami musibah gempa yang berpusat di 16 km arah tenggara Kota Palu dengan magnitudo 6,2. Gempa itu terjadi pada 24 Januari 2005 yang mengakibatkan 100 rumah rusak, satu orang meninggal dan empat orang luka-luka.

Kemudian, gempa dengan magnitudo 7,7 berpusat di laut Sulawesi mengguncang Kabupaten Buol, Sulawesi Tengah, pada 17 November 2008. Atas kejadian tersebut, empat orang meninggal dunia.

Baca  Kiai Ma'ruf Kirim Doa untuk Korban Gempa dan Tsunami Palu dan Donggala

“18 Agustus 2012 gempa dengan magnitudo 6,2 terjadi ketika masyarakat sedang berbuka puasa. Delapan orang tewas dan tiga Kecamatan terisolir,” ucap Sutopo.

Lalu, Sulawesi Tengah kembali mengalami musibah gempa dengan magnitudo 7,4 yang mengakibatkan tsunami pada Jumat 28 September 2018. Saat ini, tercatat sebanyak 384 orang meninggal dunia dan ratusan orang mengalami luka, baik ringan maupun berat.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memasukkan Kota Palu dan Kabupaten Donggala ke dalam zona merah di peta rawan bencana gempa bumi.

“Di peta rawan bencana gempa bumi termasuk dalam zona merah. Zona merah artinya rawan bencana gempa bumi tinggi,” kata Kepala Bidang Mitigasi Gempa Bumi dan Tsunami PVMBG Sri Hidayati di Bandung, Sabtu dilasir dari Antara, Sabtu (29/9/2018).

Riwayat Gempa Bumi dan Tsunami yang Mengguncang Palu dan Donggala Dari Masa ke Masa
Riwayat Gempa Bumi dan Tsunami yang Mengguncang Palu dan Donggala Dari Masa ke Masa

Sri menyatakan, potensi intensitas guncangan akibat gempa bumi di wilayah tersebut dapat mencapai lebih dari VIII MMI, di mana getaran gempa menimbulkan kerusakan ringan pada bangunan dengan konstruksi yang kuat, retak-retak pada bangunan dengan konstruksi kurang baik serta lepasnya dinding dari rangka rumah dan robohnya cerobong asap pabrik dan monumen-monumen.

Baca  Korban Tewas Gempa Palu Mencapai 420 Orang, Belum Termasuk Korban di Tempat Lain

Ia menjelaskan bahwa gempa bumi dengan magnitudo 7,4 yang mengguncang Palu dan Donggala dipicu oleh aktivitas patahan Palu-Koro, yang memanjang dari sebelah barat Donggala hingga Teluk Palu.

“Patahan Palu Koro itu juga memang patahan aktif,” ujarnya.

Sri berharap gempa di Donggala tak diikuti ratusan gempa susulan dengan kekuatan cukup besar seperti yang sebelumnya terjadi di Pulau Lombok sehingga menimbulkan banyak kerusakan dan korban jiwa. Namun, dia meminta masyarakat tetap waspada dan mengikuti arahan dari pemerintah setempat.

“Kita hidup di Indonesia, sadar pada posisi tectonic setting. Ada tiga lempeng aktif dunia, Indonesia harus siap itu. Kita tidak tahu kapan gempa dan tsunami, kita sendiri yang harus siap,” imbaunya.

PeristiwaLeft Menu Icon