Home » Inform » Sambut HSN Ratusan Santri di Probolinggo Gelar Bakar Sate Lanjeng
Sambut HSN Ratusan Santri di Probolinggo Gelar Bakar Sate Lanjeng. (Foto: Risty)
Sambut HSN Ratusan Santri di Probolinggo Gelar Bakar Sate Lanjeng. (Foto: Risty)

Sambut HSN Ratusan Santri di Probolinggo Gelar Bakar Sate Lanjeng

QARAO.com, Probolinggo – Banyak hal unik yang dilakukan sejumlah pesantren dalam menyambut Hari Santri Nasional (HSN) KE-4. Salah satunya, santri Pondok Pesantren (Ponpes) Bani Rancang Desa Lemah Kembar, Kecamatan Sumberasih, Kabupaten Probolinggo.

Mereka menggelar Bakar sate massal atau yang mereka sebut ‘Sate Lanjheng’. Kegiatan itu digelar di halaman pesantren dengan tungku sepanjang 50 meter, Sabtu (19/10/2019) malam.

Sate itu dibuat dari daging kambing yang telah ditusuk dan dibakar bersama-sama oleh santri, baik putra dan putri. Kemudian sate itu dijejer membentuk barisan panjang, yang nantinya disantap bersama di atas daun pisang, santri menyebutnya dengan istilah polo’an.

Baca  Babinsa Koramil 0820/ 01 Kanigaran Dampingi Kegiatan POSBINDU

Tidak hanya itu, ratusan santri dari pesantren tersebut menggelar berbagai kegiatan lainnya, dari yang unik sampai yang memacu andrenalin. Yaitu, bakar sate massal, teatrikal perjuangan santri hingga atraksi api.

“Ya senang sekali, bisa bakar sate dan makan bersama-sama. Setiap tahun, di pondok kami memang sering mengadakan kegiatan unik untuk merayakan hari santri nasional,” kata Nur Halusatul Jannah, santri asal Desa Jatisari, Kecamatan Kuripan.

Sambut HSN Ratusan Santri di Probolinggo Gelar Bakar Sate Lanjeng. (Foto: Risty)
Sambut HSN Ratusan Santri di Probolinggo Gelar Bakar Sate Lanjeng. (Foto: Risty)

Pengasuh Ponpes Bani Rancang, Gus Agus Hasan Muktasim Billah menyampaikan, bakar sate massal atau sate lanjheng, itu merupakan implementasi santri atas ditetapkannya HSN setiap tanggal 22 Oktober oleh pemerintah.

Baca  Guna Meningkatkan SDM Masyarakat PT BJB (Berdikari Jaya Bersama) Bangun Rumah Pintar

“Ini bentuk syukur kita atas penetapan hari santri nasional oleh pemerintah. Artinya, pemerintah mengakui jasa-jasa pesantren, khusus santri dalam membangun, mengembangkan dan menjaga negara ini,” terang Gus Hasan.

Sementara atraksi api itu, kata pria yang akrab disapa Gus Hasan, untuk membuktikan bahwa santri tidak hanya bisa mengaji saja. Tapi juga punya bakat dan keberanian yang bisa diandalkan. Yang mana, bakat itu diwadahi dalam ikatan pesilat pagar nusa.

“Santri itu jago, pemberani dan bisa diandalkan yang ditunjukkan melalui atraksi api. Selain itu, kami juga akan tampilkam teatrikal perjuangan santri zaman dulu, sebagai refleksi bagi santri saat ini,” papar Gus Hasan.

Baca  MUI Dukung Kebijakan Walikota Tutup 2 Hiburan Malam

[risty]

— via qarao-post

Rabu, 22 Januari 2020