Home » Global » Sebanyak 40 Mantan Diplomat AS Alami Kelainan Misterius Pada Otaknya
Sebanyak 40 Mantan Diplomat AS Alami Kelainan Misterius Pada Otaknya. (ilustrasi. Foto: istimewa)
Sebanyak 40 Mantan Diplomat AS Alami Kelainan Misterius Pada Otaknya. (ilustrasi. Foto: istimewa)

Sebanyak 40 Mantan Diplomat AS Alami Kelainan Misterius Pada Otaknya

QARAO.com, Washington DC Amerika Serikat – Para peneliti mengungkapkan perbedaan nyata dalam otak mantan diplomat yang diduga terkena fenomena aneh, dibandingkan dengan orang sehat yang tidak terpapar, demikian seperti dilansir LiveScience.

Secara khusus, para peneliti dari University of Pennsylvania menemukan perbedaan di area otak kecil, yang bertanggung jawab untuk koordinasi gerakan, seperti berjalan dan keseimbangan, menurut penelitian yang dipublikasikan tak lama ini, 23 Juli 2019 dalam jurnal JAMA (Journal of American Medical Association).

Hal ini berkaitan dengan korban insiden misterius yang terjadi di Kedutaan AS untuk Kuba. Sebanyak 40 diplomat mengeluhkan sakit kepala saat berada di Havana. Berdasarkan hasil riset ternyata otak mereka sudah mengalami kelainan dan tak bekerja sebagaimana mestinya.

Baca  Inilah 8 Manfaat Jalan Kaki Tanpa Alas, Termasuk Perbaiki Pencernaan dan Sirkulasi Darah

Keanehan otak ini diikuti oleh berbagai gejala neurologis, termasuk pusing, masalah keseimbangan, dan kesulitan konsentrasi dan memori. Para pejabat awalnya mencurigai beberapa jenis “serangan sonik” di balik kasus ini, tetapi ini tidak pernah terbukti.

Sebanyak 40 Mantan Diplomat AS Alami Kelainan Misterius Pada Otaknya. (Bagian otak: cerebellum atau otak kecil. Foto: istimewa)
Sebanyak 40 Mantan Diplomat AS Alami Kelainan Misterius Pada Otaknya. (Bagian otak: cerebellum atau otak kecil. Foto: istimewa)

Kelainan otak kecil (cerebellum)

Perbedaan tersebut terlihat paling mencolok di daerah cerebellum. Bagian itu memang mengatur sensor dan pergerakan tubuh. Hal tersebut selaras dengan keluhan yang dialami pasien, yakni kehilangan keseimbangan, pergerakan mata, dan pusing.

Peneliti banyak menemukan gejala yang mirip dengan gegar otak atau cedera otak traumatis ringan, walaupun dalam kasus Havana, tidak ada bukti trauma disebabkan benda tumpul. Penelitian ini pun menggunakan hasil pemeriksaan dokter dengan membandingkan hasil pemindaian magnetic resonance imaging (MRI) para diplomat dengan 48 subjek tes lainnya.

Baca  Menko Luhut: Liga Selancar Dunia Bisa Jadi Ajang Promosi Wisata Maritim Indonesia

Ragini Verma, kepala tim penelitian, mengatakan kami bisa memastikan sesuatu terjadi pada otak mereka dan akan menelitinya lebih lanjut. Pakar radiologi dan bedah otak di Perelman School of Medicine, University of Pennsylvania, tersebut mengatakan bahwa terdapat perbedaan di dalam otak mantan staf Kedubes AS di Havana itu.

“Yang jelas, gambaran otak mereka tak menunjukkan ada gegar otak. Meski, gejala yang mereka alami seperti gegar otak,” ungkapnya.

Pemerintah setempat masih menyelidiki insiden yang menimpa mantan diplomat AS di Havana tersebut. Namun, ia memastikan bahwa gejala fisik itu tidak mengancam nyawa.

Sabtu, 19 Oktober 2019