Home » Inform » Suku Tengger Gunung Bromo Rayakan Karo
Suku Tengger Gunung Bromo Rayakan Karo. (Foto: Risty)
Suku Tengger Gunung Bromo Rayakan Karo. (Foto: Risty)

Suku Tengger Gunung Bromo Rayakan Karo

QARAO.com, Probolinggo – Arak — arakan Kelontongan atau jimat suci, dilakukan ratusan warga suku Tengger, dari dua desa yakni Ngadisari dan Jetak dalam perayaan Yadnya Karo tahun Saka 1941, Senin (16/9/2019) kemarin.

Diiringi suara gamelan, dua arak — arakan kemudian bertemu layaknya iring — iringan sepasang pengantin pria dan wanita. Namun, dalam perayaan ini peran mempelai wanita digantikan oleh seorang pria.

Kepala Desa Jetak sebagai pengantin laki-laki, dan Kades Ngadisari sebagai pengantin perempuan, sementara selaku saksi adalah Kades Wonotoro. Usai melakukan arak — arakan, keduanya penganting lantas menuju balai desa Jetak, kecamatan Sukapura.

Baca  VIDEO: Palembang Terpapar Kabut Asap Ekstrem, 500 Sekolah di Palembang

Di dalam balai desa, perayaan Yadnya Karo dilanjutkan dengan tarian Sodoran. Ritual suci ini mengisahkan pertemuan dua benih manusia, yakni pria dan perempuan, sebagai gambaran cikal bakal adanya kehidupan di alam semesta.

Di akhir acara, para wanita warga suku Tengger, lantas menyuguhkan makanan bagi kaum pria, yang mengikuti prosesi perayaan Yadnya Karo. Semua warga suku Tengger, lantas berbaur dari anak — anak hingga orang dewasa, untuk menyantap sajian makanan bersama.

Tokoh adat suku Tengger, Supoyo mengatakan Karo adalah nama kalender Tengger bulan kedua, sementara makna Karo sendiri merupakan perlambang asal mula kelahiran manusia yang diciptakan Sang Hyang Widiwasa, melalui perkawinan dua orang jenis manusia yakni pria dan perempuan.

Baca  30 Anggota DPRD Kota Probolinggo Baru Periode 2019 - 2024 Akhirnya Dilantik Serta di Sumpah Janjinya Oleh Ketua Pegadilan Negeri Setempat
Suku Tengger Gunung Bromo Rayakan Karo. (Foto: Risty)
Suku Tengger Gunung Bromo Rayakan Karo. (Foto: Risty)

“Untuk tari sodoran dalam hari karo sendiri, maknanya adalah pertemuan dua manusia, dimana perwujudannya leluhur suku Tengger, yakni sosok Joko Segger dan Roro Anteng,”kata Supoyo.

Dijelaskan Supoyo, meski berlawanan jenis manusia bisa hidup rukun dan saling bertanggung jawab, menjaga keutuhan rumah tangga.

Sementara Bupati Probolinggo, Puput Tantrianasari mengatakan, Hari Raya Karo merupakan adat khas Suku Tengger, yang masuk budaya Indonesia. Budaya Warga Suku Tengger, kata Tantri harus terus dilestarikan karena merupakan simbol toleransi antar umat beragama.

“Suku Tengger merupakan simbol toleransi budaya dan agama, karena semua bisa hidup berdampingan,”jelas Tantri.

[risty]

Baca  Dukung program jargas ESDM, PGN Selesaikan 8.150 Sambungan Jaringan Gas Rumah Tangga di Probolinggo dan Pasuruan
— via qarao-post

Sabtu, 19 Oktober 2019