Home :: Opini :: Tanah Nirmala

Tanah Nirmala

Oleh: Abdul Muid Nawawi

Dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

 

Tanah Nirmala

 

Barangkali ada yang merasa janggal menyaksikan kenyataan gemuruh hasrat politik di negeri ini menjadikan Tanah Nirmala dan ibadah haji sebagai panggungnya.

Barangkali pula keheranan sedemikian tidak perlu ada karena sesungguhnya itu adalah fenomena yang natural. Kita hanya belum terbiasa. Suatu saat puguh akan terbiasa jua.

Ada dua kata yang bertaut pada kenyataan seperti itu. Kedua kata tersebut adalah legitimasi dan nirmala. Tentu saja dua kata itu bukan hal baru, kan?

Iko Uwais berhasil melegitimasi dirinya sebagai aktor laga ternama setelah tampil dalam film Hollywood Mile 22 (2018), besutan Peter Berg yang juga membesut film-film box office seperti Deepwater Horizon (2016) dan Lone Survivor (2013).

Baca Juga  Arab Saudi Siapkan Hotel Kapsul Gratis untuk Jemaah Haji

Ya, sebagai aktor, Iko Uwais memerlukan panggung untuk melegitimasi dirinya sebagai aktor hebat dan satu-satunya panggung itu disediakan oleh Hollywood, di Amerika Serikat, bukan di Pantai Losari.

Dalam alur yang sama, gemuruh hasrat politik tanah air juga memerlukan legitimasi dan tentu saja bukan Hollywood, tetapi Tanah Nirmala dan—kalau perlu—ibadah haji.

Bahwa Tanah Nirmala menyediakan panggung untuk itu atau tidak, itu bukan persoalan. Jika tidak ada panggung, panggung bisa dibuat sendiri.

Lalu mengapa Tanah Nirmala?

Sesungguhnya itu adalah puncak dari alur lakon yang telah dibangun sejak awal—lakon ini versi saya. Bahwa ada kekuatan jahat yang sedang berkuasa dan hendak melanjutkan kekuasaannya dan karena itu, harus dihentikan.

Baca Juga  Pribadi yang "Merdeka"

Namun untuk menghentikannya, tidak ada kekuatan yang benar-benar bersih dari kejahatan pula. Calon penghentinya pun compang-camping dengan boroknya sendiri-sendiri.

Apa boleh buat, memang kesempurnaan itu tidak ditemukan namun tetap harus diandaikan ada. Karenanya, kecompang-campingan ini harus dicantolkan kepada sesuatu yang nirmala agar kenirmalaan itu menulari atau paling tidak menutupi agar kecompang-campingan tersebut mendapatkan penawar. ‘Penawar’ mungkin kata yang terlampau tawar. Kata yang lebih tepat adalah ‘topeng’.

Dalam upaya mencantolkan kepada sesuatu yang nirmala tadi, tak terhindarkan pelibatan tutur-tutur nirmala dan balai-balai nirmala.

Pelibatan sesuatu yang nirmala yang awalnya hanyalah upaya untuk menyebutkan perbedaan antara kami dan kalian dan untuk menutupi kecompang-campingan, mulai mengalami proses personifikasi;

Baca Juga  Humas Kemenag Anggap Kasus 16 CJH Yang Gagal Berangkat, Selesai

kamilah kenirmalaan itu dan kalianlah comberannya; kamilah Musa dan kalianlah Firaun; kamilah di pihak Tuhan dan kalianlah di pihak Setan; dan seterusnya.

Lakon ini sudah hampir berakhir. Sebelum barakhir, sebuah pertanyaan penting diajukan: Apakah ini tentang agama dan politik dipisahkan atau tidak? Kawan, itu pertanyaan yang terlalu canggih.

Kami bahkan tidak tahu apa maksud pertanyaan itu, apalagi menjawabnya. Yang kami tahu, kami butuh legitimasi dan nirmala untuk meluluskan keinginan kami. Selain itu, au ah gelap.

Lalu mengapa Tanah Nirmala? Tutur nirmala sudah. Balai nirmala juga sudah. Mengapa Tanah Nirmala tidak? Jika ada yang masih merasa janggal, barangkali dia hanya belum terbiasa atau bahkan belum mencobanya. Cobalah! Rasanya legit!

Selanjutnya

Program Desa Wisata Akan Meningkatkan Ekonomi Lumajang

Desa di Lumajang memiliki potensi pariwisata yang bisa dikembangkan. Diperlukan sebuah perencanaan strategis untuk mengembangkannya.

Demokrasi Yang Mengandalkan Citra. (Foto: ilustrasi)

Demokrasi Yang Mengandalkan Citra

Politisi yang memiliki banyak logistik akan mudah membuat pencitraan, tentu saja politik pencitraan disukai oleh sebagian besar masyarakat.

Kembali ke Atas